All posts by Yohan Fajar Sidik

Bekal untuk tahun baru 2018

Selama 1 minggu sebelum pergantian tahun 2017 ke 2018, saya menghabiskan
waktu untuk mempelajari skill baru yaitu mengoperasikan platform Git misalnya Gitlab dan Github. Dari platform ini saya kemudian mengenal bahasa penulisan baru yang disebut Markdown. Sepertinya bahasa ini sudah menjadi bahasa standard untuk program Git. Keunggulan lain Markdown adalah banyak tersedianya aplikasi pengkonversi dari Markdown ke bahasa-bahasa lainnya semisal HTML dan LaTeX. Bahkan blog provider semisal WordPress sudah mengadopsi markdown. Cara untuk mengaktifkan Markdown di wordpress tersedia di laman ini. Satu lagi, saya juga senang menggunakan online editor Markdown.

Saya rasa, inilah bekal saya untuk menghadapi tahun 2018. Semoga dengan ini, produktifitas saya dalam menulis bisa meningkat.

Aachen, Jerman
01/01/2018

Advertisements

Ulasan Tahun Pertama Tinggal di Jerman

Sudah lebih dari 1 tahun saya tinggal di Aachen, Jerman sebagai mahasiswa PhD dan sebagai seorang suami yang memiliki seorang istri dan seorang anak.  Banyak hal yang dialami dan dirasakan oleh saya dalam kurun waktu 1 tahun tersebut. Pada tulisan ini saya akan coba merangkum hal-hal tersebut.

  1. Bahasa
    Saya pernah belajar dasar-dasar bahasa Jerman saat SMA dan sesaat sebelum berangkat ke Jerman. Level yang saya ambil adalah A1.1. Kemampuan dasar ini sangat-sangat tidak cukup untuk mengawali hidup di Jerman. Sebagian besar native Jerman berbicara sangat cepat yang tidak mudah dipahami oleh seseorang dengan kemampuan bahasa jerman level A1.1. Padahal hampir semua hal disini dilakukan menggunakan bahasa jerman bahkan dalam lingkungan kampus sekalipun. Misalnya saat seminar doktoral, acara tahunan fakultas, rapat-rapat, dan aktivitas sosial dengan kolega. Saya pun seringkali diam membisu karena tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan. Untuk mengatasi hal tersebut, saya pun ikut kursus bahasa Jerman disini sehingga sekarang sudah bisa sedikit mengerti percakapan dengan topik yang mudah. Tapi menurut saya, langkah ini bukanlah hal yang mulus dikarenakan saya harus membagi waktu antara riset dan kursus. Jadi bila ada niat studi di Jerman, sebaiknya ikut les sampai level B1 atau B2 saat masih berada di Indonesia agar proses adaptasi anda dapat dilakukan dengan mudah.
  2. Cuaca dan Waktu Solat
    Cuaca di Jerman tentunya berbeda dengan Cuaca di Indonesia. Jerman memiliki 4 musim, yaitu musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Sedangkan Indonesia hanya memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Dikarenakan kondisi cuaca tersebut, waktu solat disini bergeser secara signifikan. Misalnya saat musim dingin, shalat isya dilaksanakan pada jam 18.25. Tapi saat musim panas, shalat isya dilaksanakan pada jam 00.00. Hal ini tentunya tidak mudah bagi orang-orang yang terbiasa dengan waktu shalat yang relatif konstant seperti di Indonesia.

Pada kesempatan ini, 2 poin saja yang bisa saya sampaikan.

Aachen, Jerman, 28/12/2017

A Cool Stuff in Germany : Sistem Akses Pintu Utama di Apartemen

Di Indonesia saya belum pernah masuk ke sebuah apartemen. Saya juga tidak mengetahui bagaimana sistem akses pintu utama di bangunan apartemen. Pintu utama ini maksudnya adalah sebuah pintu utama yang perlu dilalui sebelum masuk ke sebuah apartemen. Umumnya sebuah gedung apartemen terdiri dari beberapa apartemen. Di Jerman, sebuah gedung apartemen bisa terdiri dari 12 buah apartemen. Di gedung apartemen saya, setiap lantainya terdiri dari 2 buah apartemen. Hal yang menarik di Jerman adalah lantai 1 umumnya disebut lantai dasar dan lantai 1 nya adalah lantai satu tingkat di atas lantai dasar. Saat ini saya tinggal di lantai 4 yang sebetulnya adalah lantai 5 versi Indonesia. Dengan kondisi setiap lantai terdiri dari 2 apartemen maka gedung apartemen saya memiliki 5 lantai.

Kembali lagi membahas pintu utama. Dapat dibayangkan betapa repotnya apabila salah seorang penghuni apartemen di lantai 5 kedatangan seorang tamu dan ia harus turun ke lantai dasar hanya untuk membukakan pintu untuk tamu tersebut. Thanks to teknologi yang telah mempermudah manusia. Dengan teknologi, penghuni apartemen lantai 5 tersebut dapat membukakan pintu dengan hanya menekan sebuah tombol. Selain itu, si penghuni bisa juga menelepon tamu yang berada di depan pintu utama tersebut untuk verifikasi identitas si tamu tersebut. Bahkan saat ini, metode verifikasi ini bisa juga melalui sebuah video.

Terkesan dengan sistem otomatisasi ini, saya pun mengecek merk produk yang terpasang di apartemen saya di Aachen. Produk yang berupa telefon seperti pada Gbr. 1 tersebut adalah produk dari SSS SIEDLE [1]. Produk tersebut terdiri dari gagang telefon dan 2 buah tombol. Tombol dengan simbol kunci berfungsi untuk membukakan pintu secara otomatis dan tombol dengan simbol lampu berfungsi untuk menyalakan lampu di semua lorong dalam satu gedung.

 

SSS SIEDLE
Gbr. 1 Telefon Akses Pintu Merk SSS SIEDLE

Adapun di depan pintu utama akan terpasang label nama-nama penghuni beserta tombol belnya yang dilengkapi dengan telefon. Dengan demikian saat seorang tamu hendak bertamu ke salah seorang penghuni apartemen, tamu tersebut harus menekan bel yang kemudian akan tersambung ke salah satu penghuni apartemen. Penghuni apartemen kemudian menelefon untuk verifikasi identitas. Setelah yakin dengan identitas si tamu, penghuni apartemen cukup menekan tombol dengan simbol kunci untuk membukakan pintu utama di lantai dasar tersebut.

Perusahaan SSS SIEDLE ini rupanya memiliki banyak inovasi untuk sistem otomatisasi rumah [2]. Misalnya SSS SIEDLE juga memiliki sistem otomatisasi kotak pos [3]. Bagi yang tertarik dengan segala bentuk sistem otomatisasi rumah ini, website siedle [4] layak untuk di-explore.

Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat.

Aachen, 26.08.2017

Referensi

  1. http://www.siedle*.de/App/WebObjects/XSeMIPS.woa/cms/page/locale.deDE/pid.221.224.2980.4800/H%C3%B6rger%C3%A4tekompatibel.html
  2. http://www.siedle*.de/App/WebObjects/XSeMIPS.woa/cms/page/locale.deDE/pid.221.224/Produkte.html
  3. http://www.siedle*.de/App/WebObjects/XSeMIPS.woa/cms/page/locale.deDE/pid.221.224.2980.5613/Lieferbox.html
  4. http://www.siedle*.de/App/WebObjects/XSeMIPS.woa/cms/page/locale.deDE/pid.221.3595/Wissen.html

 

Sewa Mobil Van untuk Angkut Barang

Minggu lalu teman saya pindah rumah. Saya dan beberapa teman lain ikut membantu untuk angkut-angkut barang. Barang-barangnya berupa peralatan rumah tangga seperti kasur, meja makan, meja belajar, kulkas, baju, tv, peralatan masak. Tentunya barang-barang tersebut perlu diangkut menggunakan mobil khusus untuk mengangkut barang.

Mobil yang digunakan oleh teman saya itu berupa mobil van [1], [2]. Mobil van adalah kendaraan yang digunakan untuk mengangkut barang atau orang. Pada waktu itu, teman saya menyewa mobil angkut jenis van ini dari studibus.de [3]. Menurut teman saya tersebut, biaya penyewaan untuk rentang waktu yang lama adalah termurah daripada biaya per jam yang biasanya diterapkan oleh jasa penyewaan lainnya. Dari website [3] memang terdapat 3 pilihan waktu peminjaman, yaitu jam 06.00 – 13-30, jam 14.00 – 21.00, dan 21.00 – 06.00. Biaya penyewaan dengan waktu yang telah ditetapkan rentangnya (misalnya 06.00 – 13-30) adalah 25 Euro, sedangkan biaya per jam yang ditetapkan jasa penyewaan lain adalah sekitar 7 Euro per jam. Perbedaan patokan biaya ini bisa jadi pertimbangan saat akan memesan mobil angkutan van ini.

Oh ya, mungkin ada yang penasaran dengan wujud mobil van yang disewa di Aachen ini. Dibawah ini ada foto mobil van tersebut.

Studibus

Semoga bermanfaat!

Aachen, 26.08.2017

Referensi

  1. https://id.wikipedia*.org/wiki/Van
  2. https://www.merriam-webster*.com/dictionary/van
  3. https://studibus*.de/city/aachen#fahrzeuge
  4. https://studibus*.de/p/preise

Electric Cars in Aachen

Saya tidak mengetahui sejak kapan mobil listrik telah beroperasi di Jerman, khususnya di Aachen karena sejak kedatangan saya di Aachen pada bulan oktober 2016, mobil listrik ini telah beroperasi. Hal ini ditandai dengan tersebarnya charging station [1] di beberapa tempat di Aachen. Menurut [3], saat ini terdapat 33 buah charging station di Aachen.

Sebetulnya informasi detail mengenai perkembangan mobil listrik di Aachen dapat dibaca di [2]. Website tersebut berbahasa Jerman sehingga saya belum memperoleh informasi yang banyak dari website tersebut.

Meninjau ke performa charging baterai. Waktu yang dibutuhkan untuk charging baterai dari kondisi 10 % sampai kondisi penuh adalah 6-8 jam dengan menggunakan charging konvensional (AC, 3.6 kW) dan hanya 30-45 menit dengan fast-charging [3]. Menariknya, pelanggan STAWAG [4] tidak dikenakan biaya untuk charging baterai mobil di stasiun charging milik konsorsium http://www.ladenetz*.de. Sedangkan pelanggan provider listrik lainnya dapat menggunakan stasiun charging dengan membayar melalui PayPal [3].

Berdasarkan informasi dari [5], RWTH Aachen dengan industri memiliki kerja sama untuk mengembangkan dan memproduksi mobil listrik yang dinamakan e.GO [6]. Sampai saat ini terdapat 3 buah tipe e.GO, yaitu e.GO life, e.GO kart, e.GO mover. e.GO life merupakan city car, e.GO kart mirip sepeda lengkap dengan pedalnya tetapi memiliki 4 roda, dan e.GO mover adalah minibus.

Referensi :

  1. https://chargemap*.com/cities/aachen-DE
  2. http://www.aachen*.de/DE/stadt_buerger/verkehr_strasse/verkehrskonzepte/elektromobilitaet/__Ueberblick.html
  3. http://www.futurelab-aachen*.de/en/e-mobile-in-aachen/
  4. https://www.stawag*.de/produkte/strom/
  5. http://www.rwth-campus*.com/en/news/e-go-life-affordable-electric-car-realized-by-german-industrie-4-0-strategy/
  6. http://e-go-mobile*.com/en/