Mengintip Perjuangan Sebelum Mendaftar Beasiswa LPDP

Selepas lulus S2, saya kemudian bekerja di PT Schneider Electric Indonesia sebagai seorang electrical design engineer. Tugas saya adalah membuat perencanaan dan mendesain sebuah panel kontrol dan proteksi untuk gardu induk. Banyak proyek yang telah saya kerjakan, bahkan beberapa kali saya berkesempatan untuk pergi ke site proyek saya di pulau sumatera seperti di Siak dan Prabumulih. Mendapatkan pekerjaan ini merupakan suatu berkah tersendiri bagi saya karena pekerjaan ini cukup nyaman dan lingkungan kerjanya pun nyaman. Namun, ada sebuah keinginan yang selalu muncul di benak saya, yaitu untuk melanjutkan studi S3 di luar negeri. Keinginan ini bertambah besar ketika mengetahui bahwa teman-teman sejurusan saya di teknik elektro UGM banyak mendapatkan beasiswa LPDP Luar Negeri. Hingga suatu ketika saya mendapatkan postingan pengumuman mengenai posisi PhD di TU Braunschweig, Germany. Pengumuman tersebut berasal dari Hutomo Suryo Wasisto. Ia adalah senior saya di TE UGM yang lulus secara cemerlang dari TU Braunschweig. Setelah lulus, ia pun bekerja sebagai dosen di kampus tersebut. Saya pun kemudian mencari tahu mengenai profil dan riset beliau. Sungguh terkesima saya ketika mengetahui bahwa Pak Ito (panggilan saya kepada senior saya tersebut) berhasil menerbitkan lebih dari 40 paper dan jurnal. Saya pun kemudian memberanikan diri untuk mengontak beliau dan berdiskusi mengenai riset yang beliau tekuni. Saya pun kemudian mengirimkan persyaratan-persyaratan untuk mendapatkan LoA dari TU Braunschweig ke Pak Ito. Setelah itu, Pak Ito bersama dengan Prof. Peiner (calon supervisor utama saya) mengundang saya untuk interview via skype. Alhamdulillah, saya pun akhirnya mendapatkan LoA dari TU Braunschweig. Setelah ini saya harus mendapatkan beasiswa untuk membiayai hidup bulanan saya di Jerman.

Umumnya salah satu persyaratan untuk mendapatkan beasiswa LN adalah kemampuan bahasa inggris yang baik. Hal ini dibuktikan dengan sertifikat bahasa dengan batas minimal tertentu. Salah satu beasiswa terbaik di Indonesia, LPDP, mensyaratkan kemampuan bahasa inggris TOEFL ITP 550, TOEFL iBT 79, IELTS 6.5, atau TOEIC 750. Waktu itu, saya sangat tidak percaya diri dengan kemampuan bahasa saya, bahkan  saya belum pernah mengikuti salah satu dari keempat jenis tes bahasa di atas. Saya hanya pernah ikut tes TOEFL Like dengan score yang masih dibawah 500. Hal inilah yang mendorong saya untuk membuat keputusan yang berat, yaitu RESIGN. Keputusan ini perlu diambil agar saya bisa fokus untuk belajar bahasa karena saya merasakan sendiri sulitnya membagi waktu antara belajar dan bekerja sebagai engineer. Tapi, sering kali saya merasa bahwa saya telah salah langkah mengambil keputusan ini karena kondisi keuangan saya yang semakin menipis sementara belum ada kejelasan memperoleh beasiswa. Namun, saya selalu memotivasi diri saya sendiri bahwa setidaknya saya telah mencoba walaupun pada akhirnya saya tidak mencapai apa yang saya cita-citakan.

Setelah resmi menyandang gelar pengangguran, saya bersyukur sekali mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Lab TTL UGM untuk mengerjakan proyek mobil listrik nasional. Ini berkat Pak Eka Firmansyah, dosen pembimbing S1 dan S2 di UGM. Saya sangat berterima kasih kepada beliau. Beliau ini adalah salah satu dosen yang menginspirasi saya untuk terus studi lanjut sampai S3 dalam usia muda. Beliau juga, adalah seorang ahli power electronics yang memperkenalkan bidang tersebut kepada saya. Dengan bekerja kembali, saya sebetulnya masih belum tenang karena tidak bisa konsentrasi penuh untuk belajar bahasa. Namun, kebutuhan akan uang untuk hidup memang tidak bisa ditunda. Tapi setidaknya, pekerjaan kali ini tidak terlalu menyita waktu saya seperti di pekerjaan sebelumnya. Di Jogja ini lah saya pun bertemu dengan teman-teman yang semangat berjuang untuk mendapatkan beasiswa. Salah satu teman saya tersebut, adalah Adul (nama panggilannya). Ia adalah adik kelas saya di TE UGM. Demi mendapatkan score bahasa inggris yang diinginkan, pulang dari Lab saya serius belajar bahasa inggris sampai larut malam. Sering kali saya pun mengundang Adul untuk belajar bersama di kos saya, bahkan sampai menginap di kos saya agar dapat belajar sampai tengah malam. Ber jam-jam, ber hari-hari, ber bulan-bulan kami belajar hanya untuk mendapatkan score yang melebihi dari 550. Masih segar di kepala saya, saya sangat gembira sekali ketika pada akhirnya saya mendapatkan score yang lebih dari 550 di bulan agustus 2015. Dengan diperolehnya score ini, saya pun dapat mendaftar beasiswa LPDP. Alhamdulillah 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Mengintip Perjuangan Sebelum Mendaftar Beasiswa LPDP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s